Mungkin terlihat sangat aneh sekaligus terasa membingungkan ketika kita berpikir bahwa kapitalisme disebut sebagai virus yang ikut campur dalam hal yang bersifat medis yaitu penyakit. Dua hal yang jelas berbeda namun ternyata ada keterkaitan. Keterkaitan itu pun tidak terlepas dari sistem ekonomi kapitalis yang selalu berusaha bergerak mencari sebuah peluang untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya agar selalu tetap memenuhi kebutuhan ekonomi para penguasa, penanam modal dan pelaku dari kapitalis sendiri karena Budaya konsumtif sangat dominan di kalangan masyarakat saat ini.
Kapitalis masuk dalam dunia medis berawal dari pesatnya kemajuan industri makanan (fast food). Ini bisa dijelaskan dengan budaya menu rata-rata orang modern yang memang tergolong sakit, karena menu harian mereka rata-rata bersifat ampas akibat diolah pabrik, salah penyimpanan, diawetkan dan diberi zat kimia,sebagian besar vitamin mineral dalam menu sudah hilang yang tersisa hanya kalori. Namun Sistem yang telah mempertemukan semua potensi ekonomi dalam logika pasar, termasuk industri makanan sendiri. Perhitungan tetang resiko medis dampak dari fast food pun di tinggalkan demi meraih laba sebesar-besarnya. Kuatnya prisip penumpukan laba ini menarik semua kekuatan ekonomi dirangsang untuk memompa tuntutan konsumsi sekaligus mewujudkan tatanan masyarakat alternatif. Masyarakat yang ditata mengikuti proses produksi serta tunduk pada setiap logika yang berlaku dalam mesin ekonomi namun seharusnya proses produksi yang mengikuti tatanan pada masyarakat.
Segala bentuk resiko yang menyerang tubuh dan mengancam kesehatan dianggap sebagai kewajaran yang tidak bisa dihindari dan bila mana perlu,tubuh bisa dikocok-kocok supaya menyesuaikan diri dengan irama mesin industri. Berbagai produk suplemen kini mulai menyerbu pasar dengan janji-janji untuk memulihkan dan meningkatkan stamina. Status tubuh kemudian bergeser bukan lagi sebagai milik individu, tetapi selalu harus dicocokkan dan disesuaikan dengan tuntutan industrialisme, selanjutnya dampak dari ini industri farmasi menjadi babak baru dari kapitalisme global.
Saat ini industri farmasi adalah salah satu kekuatan terbesar dalam dunia ekonomi. Melalui industri farmasi, semua jenis penyakit tidak lagi ditangani sebagai bahaya yang harus dimusnakan, melainkan di minimalisir gejalanya saja untuk menjaga kestabilan dari produksi obat-obatan. Berbagai jenis produk obat yang beredar di pasaran justru semakin merangsang munculnya jenis penyakit baru. Sampai-sampai muncul istilah “perut apotek” yang merujuk pada kebiasan mengkonsumsi obat-obatan. Dengan memikat konsumen supaya memiliki tubuh langsing, sejumlah perusahaan farmasi mencoba untuk memproduk obat-obat diet untuk mencari keuntungan yang besar tanpa memperdulikan efek samping dari obat tersebut karena indutri farmasi hanya ingin menjual hasil produksinya secara besar-besaran agar memperoleh laba yang besar. padahal banyak kasus dimana pil diet bukan membuat tubuh menjadi langsing tetapi malah mengakibatkan resiko katup jantung.
Upaya masyarakat untuk melakukan tuntutan hukum di Indonesia selalu menghadapi jalan buntu. Terhadap produk obat yang membawa malapetaka kesehatan bagi masyarakat, paling banter pemerintah hanya menarik produk dari pasaran.tapi tidak ada pemberian ganti rugi bagi konsumen. Kedudukan konsumen yang lemah juga menyebabkan industri farmasi dalam posisi yang kebal. apotek dan dokter adalah kekuatan penyangga perusahaan farmasi yang motif utama mereka mengeruk laba. Lalu siapa yang dirugikan oleh kondisi seperti ini? Jawaban awam saja akan menunjuk kalau ini semua akan membawa korban bagi konsumen sudah sakit,uang terkuras dan bisa meninggal pula. jahatnya virus kapitalisme membuat orang terjerat dalam hegemoni yang membunuh perlahan-lahan dan selalu mempunyai cara yang licik untuk mencari keuntungan sampai-sampai manusia dijadikan komoditi belaka. “tidak memperdulikan serangan adalah harapan iblis dari manusia” Edmud Burke.
Jadi!! bergerak dan lawan!! keep resistan!!
Inspirasi dari: film surplus dan buku orang miskin dilarang sakit.
Jumat, 03 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-001.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar