Jumat, 03 Juli 2009

Andai Aku Jadi Presiden: Sebuah Gambaran Realitas Sosial Budaya Dunia Pendidikan

Nama saya Wildanshah kuliah pada jurusan ilmu politik angkatan 2008. pagi hari di kota perwoketo saya berfikir ketika berjalan kaki ke arah kampus tercinta, kampus fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FISIP) atau orang mengenalnya pula dengan kampus oranye. Konon katanya kampus FISIP telah mencetak mahasiswa yang kritis dan peduli dengan permasalah-permasalahan sosial, politik maupun budaya. Hari ini begitu cerah dengan di hiasi birunya langit dan kokohnya Gunung Slamet. Semangat saya begitu membara melihat lukisan Tuhan yang begitu indah. Sedikit saya percepat langkah ini untuk menuju kampus yang menyimpan jutaan misteri impian dan cita-cita setiap orang yang menjadi mahasiwa Universitas Jendral Soedirman untuk mendapatkan sebuah pendidikan.


Sepanjang perjalanan saya melihat banyak anak kecil yang berlari-larian untuk masuk ke sekolah dasar yang berada tepat di depan pendopo kelurahan Grendeng, mereka terlihat bersemangat untuk mengikuti pelajaran. Namun ada yang tidak lepas dari pandangan saya ada seorang anak kecil yang sangat sibuk mencari sesuatu ditumpukan sampah dengan membawa tas yang besar berbahan seperti rajutan bambu. Banyak pertanyaan dibenak ini saat melihat tingkah laku dari anak tersebut, di antara anak-anak yang seumurannya bersekolah, kenapa dia tidak berangkat ke sekolah. Dan saya melihat sekitar saya banyak tukang becak yang hanya terdiam seperti memikirkan sesuatu yang saya sendiri tidak tahu apa yang dia pikirkan. Tiba-tiba ada seorang guru yang berteriak keras untuk memanggil murid-muridnya untuk masuk ke kelas karena pelajaran akan segera di mulai. Sangat terlihat kontras sekali antara nasib anak yang memulung dan tukang becak yang tidak mengeyam pendidikan.


Beberapa menit kemudian saya sudah sampai ke kampus lalu saya mencoba duduk di depan musolah sambari melihat orang yang lalu lalang karena mereka mempunyai kesibukan masing, seolah olah mereka lupa ada permasalahan yang sedang terjadi di negara ini . Namun apa yang terlihat pagi ini masih terbayang di pikiran saya, apa yang menjadi sumber permasalahan pada bangsa yang selalu menghambat negara ini, negara yang mempunyai beraneka ragam budaya dan suku bangsa maupun sumber kekayaan alam disetiap pulau-pulaunya, namun kenapa Kita tidak pernah bebas dari keterpurukan yang menjerat rakyat sampai saat ini? Mahalnya pendidikan dan mulai hilangnya budaya bangsa juga menjadi faktor keterbatasan pada negara dunia ke tiga ini untuk lebih maju.
Kondisi krisis yang menjadi kewajaran saat ini perlu direnungkan kembali, apa yang sebenarnya terjadi dalam diri bangsa Indonesia. Hal itu dapat kita mulai dari mengamati kehidupan sehari-hari yang ada di masyarakat. Berbagai kerusuhan, pencurian, dari kelas pencuri ayam sampai korupsi dan manipulasi aset kekayaan negara. Di kota-kota besar problem sosial begitu beragam. Banyak pengangguran,pengemis dan gelandangan, pencuri sepeda motor dikampus-kampus, aparat yang memungut uang administrasi di berbagai kantor hingga tepi jalan, bunuh membunuh antar etnis, peledakan gereja,masjid dan tindakan kekerasan lainnya.
Pada akhirnya saya kembali berbicara pada diri saya sendiri dan kembali berfikir sejenak, akhirnya saya tahu apa yang menjadi permasalahan.


Saya ingat dengan buku yang pernah saya baca yang berjudul “ideologi-ideologi pendidikan” dan sebuah selembaran wacana yang selalu ada di hari jumat saat saya melakukan kewajiban sebagai umat muslim. Wacana itu berisikan tetang kapitalisme penyebab mahalnya pendidikan yang dicetak oleh hizbut tharir Indonesia (HTI) dengan nama al-islam. Dengan demikian saya mulai mengingat hasil diskusi saya dengan teman-teman saya yang juga tergabung dengan Centra Peduli Unsoed CPU yang kebetulan saya salah satu dewan pimpinan dari organisasi ini yang membicarakan persoalan-persoalan yang ada pada dunia pendidikan.


Menurut pandangan saya dunia pendidikan lah yang sangat bermasalah di negara ini. Keterbatasan dana pemerintah maupun kekurangan niat pemerintah sejak orde baru untuk memacu pendidikan menyebabkan pendidikan kita juga melibatkan sektor swasta di dalamnya. Konsep berpikir kapitalistik bukan hanya melekat dalam benak pikiran para pejabat di masa orde baru dan juga melekat di benak para pengusaha di dunia pendidikan.


Babak baru kapitalis mulai memasuki dunia pendidikan membuat para pemodal yang mengatas namakan lembaga pendidikan swasta , akhirnya mereka pun berlomba-lomba untuk menarik biaya tinggi kepada anak didik maupun orang orang tua perserta didik, dengan alasan tidak adanya subsidi pemerintahan terhadap lembaga mereka. di perguruan tinggi karena penerimaan gaji dosen sedikit mereka juga mengajar di perguruan tinggi swasta. Tenaga kerja dosen dari perguruan tinggi negeri merupakan tenaga yang berkualitas yang murah harganya, dengan gaji yang murah mereka mau mengajar karena motivasi membantu atau membina, tetapi akhirnya mereka menjadi tenaga yang di eksploitasi kemampuannya. Kondisi ini mungkin dapat di anggap bantuan pemerintah terhadap perguruan tinggi swasta. untuk mencari uang dan tenaga kerja murah.


Penyelengaraan pendidikan sekarang ini tidak lepas dari ideologi yang diadopsi negara. Mahalnya biaya sekolah adalah dampak logis dari diadopsinya ideologi kapitalisme oleh negara ini. Padahal ideologi ini mengharamkan peranan negara yang terlalu jauh untuk mengatur urusan yang ada dalam masyarakat. Peran negara memang sengaja di minimalkan. Dalam sistem ini negara memang di buat tidak mampu membiayai penyelenggaraan urusan masyarakat. Karena kapitalisme menetapkan sumber-sumber kekayaan yang tidak boleh dikelola negara, tetapi harus diserahkan kepada pihak swasta. Bahkan negara ini sudah terlanjur menjual BUMN (salah satunya indosat) ke pihak swasta. Dengan begitu negara tidak akan mendapatkan sumber-sumber pendapatan lagi dari kekayaan alam yang seharusnya dapat mebuat negara mampu untuk membiayai pendidikan masyarakat.


Ideologi kapitalisme juga mengharuskan pengelolaan urusan masyarakat diserahkan kepada pihak swasta. Semua sektor harus di buka lebar untuk swasta dan juga menjadi lahan bisnis karena adanya privatisasi, akibatnya biaya sekolah terus meroket. Sekolah tiba-tiba menjadi barang dagangan yang mewah bagi golongan masyarakat yang kurang mampu. Kalau ada sekolah gratis itu hanya sampai tingkatan SMP berlaku pada sekolah negeri . selebihnya, sekolah tingkat lanjut hanyalah untuk mereka yang mampu membayar mahal, tidak untuk orang miskin seperti anak yang memulung sampah dan tukang becak yang ada di sekitar kampus.
Mungkin banyak dari kita akan berkata bahwa adanya sekolah gratis sudah merupakan hal yang bagus. Sebab, baru segitulah peranan yang bisa di lakukan pemerintah untuk memberikan sekolah gratis. Karena negara tidak mempunyai sumber dana yang cukup untuk membiayai lebih dari itu.


Penjualan BUMN kepada pihak swasta yang diamanahkan undang-undang terus memperkecil sumber pendapatan negara. Akibatnya, untuk membiayai semua urusannya, negara harus membebani rakyat dalam bentuk pungutan pajak yang terus meningkat. Jika terjadi masalah, kelangsungan sekolah gratis itu bisa terancam, negara kemudian menurunkan anggaran pendidikan. Akhirnya muncul cara-cara lain seperti UU BHP agar pemerintah bisa lepas tanggung jawab pada dunia pendidikan dan ditanggungkan ke orang tua peserta didik.


Keinginan masyarakat untuk menikmati sekolah berkualitas dengan biaya murah dalam pemerintahan kapitalis jelas bertentangan dengan ideologi kapitalis. Jika masyarakat tetap menghendaki itu , yaitu negara menanggung biaya pendidikan , maka masyarakat pun harus siap untuk menanggung beban berat. Sebab biaya untuk itu harus di tanggung rakyat dalam bentuk pungutan pajak tinggi semua itu konsekuensi logis dari ideologi kapitalis yang di adopsi negeri ini.


Pada akhirnya, anak-anak dari keluarga yang tidak mampu harus puas dengan sekolah apa adanya, dan membuang mimpi untuk menikmati pendidikan tinggi. Itu artinya mereka harus membuang mimpi memperbaiki nasib keluarga. Jika dulu sekolah bisa di katakan sebagai jalan untuk memperbaiki nasib, maka mahalnya biaya sekolah, peluang perbaikan nasib itu seakan tertutup bagi mereka yang kurang mampu. Jadilah mereka yang kurang mampu terjebak terus menerus dalam lingkaran keterpurukan.
Dapat kita lihat dampaknya di tingkatan dunia pendidikan SD,SMP dan SMA negeri mengalami kemerosotan dalam operasional mereka, bukan hanya gaji guru yang minim, tetapi juga keterbatasannya biaya operasional dan biaya perawatan fasilitas hampir tidak ada. Kini tinngkat pendidikan dasar dan menengah mulai berkembang yang namanya sekolah unggulan maupun sekolah favorit, orang tua lebih suka membayar dengan harga tinggi agar anaknya masuk perguruan tinggi atau sekolah favorit, dengan harapan pendidikan anak jadi tanggu jawab guru. Sedangkan orang tua masih bisa terus berkerja untuk mencari uang untuk keberlangsungan kehidupan keluarganya.


Sekolah favorit di tingkatan dasar di cirikan oleh banyaknya mobil yang menunggu , atau menjemput anak-anak mereka. para perseta didik secara tidak sadar dimasukan ke dalam suatu lingkungan pergaulan dan budaya yang mencetak pikiran mereka bahwa teman-teman mereka serba anak orang kaya. Mereka melihat generasi muda bangsa Indonesia adalah generasi makmur padahal itu tidak sama sekali benar karena mereka telah terbentuk.oleh lingkungan yang sangat mampu untuk mengakses pendidikan dan pada akhirnya mereka melupakan orang yang tidak mampu mengases pendidikan.
Kini mulai muncul kelas percepatan , anak didik diberi pelajaran sedemikian rupa dengan harapan dapat lebih cepat kelulusannya. Program tiga tahun dipadatkan menjadi dua tahun. Mereka mungkin tidak sempat bermain, tidak sempat mengembangkan bakat emosinya, tidak sempat mengembangkan bakat seni dan budayanya. Kemampuan mereka di tekan sedemikian rupa agar hafal rumus dan cerdik melakukan pilihan ganda. Seharusnya kecerdasan intelektual juga harus di imbangi dengan kecerdasan emosional, dan bahkan kecerdasan spiritual. Seseorang tidak hanya cukup cerdas intelektualnya, tetapi juga perlu memiliki kemampuan berkerja sama, kemampuan komunikasi sosial dengan teman kerja, dengan atasan maupun bawahan. Kerja sukses untuk menghadapi persoalan-persoalan lapangan adalah suatu kerjasama. Dengan demikian anak didik tidak hanya sekedar mampu memecahkan persoalan yang ada dalam kertas ujian saja, tetapi harus mampu untuk hidup dan menghadapi kehidupan.


Masyarakat kita masih harus belajar untuk menghargai orang berkerja, orang yang memiliki keterampilan. Saat ini sekolah umum sangat banyak , sedangkan sekolah keterampilan jauh berkurang. Tidak ada sekolah menengah pertanian, sekolah menengah pertukangan dan sekolah menengah perkebunan.
Untuk saat ini orang banyak merasa hina untuk menjadi petani atau pengelola lahan. Karena profesi petani selama bertahun-tahun menjadi korban kebijakan pemerintahan, korban tengkulak, sehingga mereka merupakan masyarakat yang menerima beban derita berkelanjutan. Di jaman Belanda terdapat program tanam paksa sekarang malah terdapat program pemaksaan tanaman.
Orientasi berpikir dalam pendidikan juga perlu kita evaluasi kembali, pendidikan dasar bukan dirancang oleh seorang profesor maupun sarjana ekonomi seperti sekarang ini tetapi harus dirancang oleh para guru sekolah dasar. Banyak contoh para profesor yang tidak mampu mendidik anak kandungnya sendiri, dan mereka diminta memberikan nasehat dan rancangan konsep pendidikan sekolah dasar hingga menengah untuk membuat lebih berantakan lagi dunia pendidikan.


Banyak kenyataan yang membuka mata saya betapa bobroknya keadaan dunia pendidikan di Indonesia. Dimulai dari sistem pendidikan, kurikulum pendidikan dan adanya komersialisasi pendidikan. Menurut saya seharusnya pendidikan menjadi pondasi yang sangat kuat untuk membangun laju perkembangan dari sebuah negara. Namun hal ini terlalu di anggap remeh oleh pihak pemerintahan karena bagi mereka kemajuan sebuah negara di lihat dari kemajuan sektor ekonomi, akhirnya pemerintah melupakan hal yang paling mendasar yaitu sebuah pendidikan untuk semua golongan masyarakat dari masyarakat bawah sampai kalangan masyarakat atas .


Seadainya saya menjadi Presiden, fokus utama saya bagaimana membangun sebuah pendidikan yang membebaskan masyarakat dari belenggu permasalahan yang menimpa masyarakat saat ini. Bukan pendidikan yang mencetak peserta didik yang hanya siap kerja namun juga mencetak peserta didik agar peduli untuk membangun kemajuan negara. Tidak hanya memperdulikan kemajuan dirinya sendiri namun juga kemajuan orang lain. Ketika pendidikan bansa ini berkembang saya yakin faktor yang lain pun akan terus berkembang mengikuti lajutnya perkembangan pendidikan seperti ekonomi,sosial maupun politik akan jauh berkembang.


Dengan membentuk sebuah wadah pendidikan gratis untuk mempelajari hal yang lebih bersifat kejuruan dan tidak hanya pendidikan yang bersifat formal yang di di berikan perhatian oleh pemerintah namun pendidikan yang informal pun harus diperhatikan. Setiap kegiatan yang bersifat pendidikan mendapat ruang sebebas-bebasnya untuk menggunakan prasarana publik. Ini akan menjadi bentuk apresiasi yang sangat besar dari pemerintah untuk peserta didik.


Pendidikan tidak harus dibatasi oleh kurikulum yang ada. Pendidikan untuk masyarakat seharusnya disesuaikan dengan permasalahan yang ada di depan mereka sehingga mereka mampu menjawab setiap persoalan-persoalan yang menghambat ke hidupannya. Pendidikan harus menekankan kepada budaya bangsa agar mereka lebih menghargai pentingnya sebuah pendidikan bukan hanya menjadi ajang pamer semata.


Lebih menghargai hasil kerja para pendidik karena tugas yang mereka lakukan lebih berat ketimbang tugas yang diamanatkan militer untuk menjaga kesatuaan negara. Tugas para pendidik sebenarnya membuat peserta didik menjadi manusia seutuhnya agar mampu menjaga kemajuan negaranya. Dengan cara menaikan sumber daya manusia yaitu para pendidik sehingga dapat mengajarkan banyak hal kepada peserta didik
Memutuskan hubungan dengan pihak asing dan berusaha untuk mendapatkan kembali BUMN yang sudah dijual untuk menjadi pendapatan tetap negara untuk pembangunan. Memfokuskan pendapatan negara untuk pendidikan dan prasarana umum.

Menjamin masyarakat untuk mengakses pendidikan gratis di daerah manapun di Indonesia tanpa campur tangan pihak swasta. Sehingga masyarakat tidak terlalu di bebani untuk mencari uang yang banyak buat mengakses pendidikan dan mehilangkan budaya diskriminasi di dalam dunia pendidikan. Dengan dimikian masyarakat bisa memfokuskan kehidupan sosial, politik dan budayanya termasuk ekonomi untuk kemajuan negara.
Akhirnya saya menghentikan lamunan ini karena ada seseorang yang memanggil. Orang tersebut bernama Jatmono, dia adalah Presiden BEM di FISIP dia mengigatkan saya dengan tugas-tugas yang di berikan ke saya yang selaku anggota BEM untuk menyelesaikan program taman bacaan untuk masyarakat di Desa Gandatapa. Begitu pentingnya bagi saya arti dari pendidikan. Semua impian dapat diraih ketika kita dapat sebuah pendidikan. Seperti halnya negara Jepang sangat displip dengan permaslahan pendidikan akhirnya mereka menjadi negara yang sangat maju. Saya mulai bangkit dari tempat yang membuat saya berpikir tentang realitas social budaya di dunia pendidikan. Kembali menjalani rutinitas dan berusaha untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosen mungkin saja saya akan menjadi Presiden ketika saya berhasil dalam berproses dalam lembaga pendidikan yang bernama UNSOED

Tidak ada komentar: